ABSTRAK
Peningkatan kekuatan beton adalah salah satu faktor utama yang diharapkan pada
teknologi beton. Sejak lebih dari 20 tahun beton mutu tinggi dengan kuat tekan
berkisar antara 50 MPa sampai dengan 140 MPa telah digunakan di negara-negara
maju pada konstruksi bangunan tingkat tinggi dan jembatan berbentang panjang
atau bangunan didalam lingkungan yang agresif. Namun di Indonesia kuat tekan
beton mutu tinggi yang dapat dicapai maksimum baru sebesar 60 MPa. Sifat beton
akan mengalami penurunan kekuatan akibat adanya bahan tambah semen, agregat,
dan adanya pori-pori. Pengurangan factor air semen (fas) dan penambahan
admixture pozzolanic seperti silicafume sering digunakan untuk memodifikasi
komposisi beton dan mengurangi pori-pori. Pengurangan fas mengakibatkan
menurunnya porositas beton dan pori-pori, namun kelecakan beton juga akan
berkurang sehingga sulit dikerjakan. Agar mudah dikerjakan maka perlu digunakan
superplastisizer. Hasil menunjukkan bahwa superplasticizer dengan dosis lebih
dari 2 % terhadap pasta semen tidak meningkatkan kelecakan pasta. Oleh karena
itu semua benda uji digunakan superplastisizer dengan dosis sekitar 2 % terhadap
berat semen. Pengujian awal memperlihatkan adanya kelecakan yang sangat tinggi
pada beton segar dan mendapatkan kuat tekan yang lebih baik dengan silicfume
sebesar 10 % terhadap berat beton. Adanya kelecakan yang sangat tinggi hingga
peningkatan kuat tekan beton, menjadi pembahasan utama pada makalah ini.
1. Pendahuluan
Beton, sejak dulu dikenal sebagai material dengan kekuatan tekan yang memadai,
mudah dibentuk, mudah diproduksi secara lokal, relatif kaku, dan ekonomis. Tapi
di sisi lain, beton juga menunjukan banyak keterbatasan baik dalam proses
produksi maupun sifat-sifat mekaniknya, sehingga beton pada umunya hanya
digunakan untuk konstruksi dengan ukuran kecil dan menengah.
Namun sejak dua dekade terakhir ini, setelah berhasil dikembangkannya berbagai
jenis tambahan atau admixtures dan additives untuk campuran beton, terutama
water reducer atau plasticizer dan superplastisizer, maka telah terjadi
kemajuan yang sangat pesat pada teknologi beton, dengan berhasil memproduksi
beton mutu tinggi bahkan sangat tinggi, dan yang pada akhirnya juga telah
memperbaiki dan meningkatkan hampir semua kinerja beton menjadi suatu material
modern yang berkinerja tinngi.
Di beberapa negara maju sudah sejak lama beton mutu tinggi berhasil diproduksi
untuk pekerjaan-pekerjaan khusus. Pada tahun 1941, di Jepang sudah diproduksi
beton mutu tinggi dengan kuat tekan mencapai 60 MPa untuk panel cangkang beton
pracetak pada sebuah terowongan kereta api. Pada tahun 1952, di Eropa beton
mutu tinggi dengan kuat tekan 60 Mpa sudah dipakai untuk struktur jembatan
berbentang panjang. Pada tahun 1960, di USA juga sudah diproduksi beton mutu
tinggi 60 MPa untuk keperluan militer, selanjutnya sejak tahun 1980an, beton
mutu tinggi dan sangat tinggi banyak digunakan untuk pelaksanaan struktur
gedung bertingkat tinggi (terutama untuk elemen kolom), kemudian sejak 1989
sudah digunakan beton bermutu 100 – 140 MPa untuk jembatan berbentang panjang,
bangunan bawah tanah dan lepas pantai, bangunan industri seperti silo yang
tinggi dan berdiameter besar, dan juga bangunan beresiko tinggi seperti
bangunan reaktor pada pembangkit listrik tenaga nuklir. Di Indonesia beton mutu
tinggi dengan kuat tekan rata-rata sebesar 85 MPa baru dapat dibuat di
laboratorium pada tahun 1990, dengan bahan tambah superplastisizer dengan nilai
slump mencapai 15 cm. Campuran beton yang dihasilkan dengan kadar semen 480
kg/cm2 dan faktor air semen (fas, w/c) 0,32 (Supartono, 1998). sedangkan
realisasi di lapangan maksimal baru mencapai + 80 % nya atau setara dengan 60
MPa.
Perkembangan teknologi dalam bidang konstruksi di Indonesia terus menerus
mengalami peningkatan, hal ini tidak lepas dari tuntutan dan kebutuhan
masyarakat terhadap fasilitas infrastruktur yang semakin maju, seperti jembatan
dengan bentang panjang dan lebar, bangunan gedung bertingkat tinggi (terutama
untuk kolom dan beton pracetak), dan fasilitas lain. Perencananaan
fasilitas-fasilitas tersebut mengarah kepada digunakannya beton mutu tinggi,
dimana mencakup kekuatan, ketahanan (keawetan), masa layan dan effisiensi.
Dengan beton mutu tinggi dimensi dari struktur dapat diperkecil sehingga berat
struktur menjadi lebih ringan, hal tersebut menyebabkan beban yang diterima
pondasi secara keseluruhan menjadi lebih kecil pula, jika ditinjau dari segi
ekonomi hal tersebut tentu akan lebih menguntungkan. Disamping itu untuk
bangunan bertingkat tinggi dengan semakin kecilnya dimensi struktur kolom
pemanfaatan ruangan akan semakin maksimal.. Porositas yang dihasilkan beton
mutu tinggi juga lebih rapat, sehingga akan menghasilkan beton yang relatif
lebih awet dan tahan sulfat karena tidak dapat ditembus oleh air dan bakteri
perusak beton. Oleh sebab itu penggunaan beton bermutu tinggi tidak dapat
dihindarkan dalam perencanaan dan perancangan struktur bangunan.
Salah satu masalah yang sangat berpengaruh pada kuat tekan beton adalah adanya
porositas. Semakin besar porositasnya maka kuat tekannya semakin kecil,
sebaliknya semakin kecil porositas kuat tekannya semakin besar. Besar dan
kecilnya porositas dipengaruhi besar dan kecilnya fas yang digunakan. Semakin
besar fas-nya porositas semakin besar, sebaliknya semakin kecil fas-nya
porositas semakin kecil. Untuk mendapatkan beton bermutu tinggi (kuat tekan
tinggi) maka harus dipergunakan fas rendah, namun jika fas-nya terlalu kecil
pengerjaan beton akan menjadi sangat sulit, sehingga pemadatannya tidak bisa
maksimal dan akan mengakibatkan beton menjadi keropos, hal tersebut berakibat
menurunnya kuat tekan beton. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dipergunakan
Superplasticizer yang sifatnya dapat mengurangi air (dengan menggunakan fas
kecil) tetapi tetap mudah dikerjakan yaitu Sikamen Type F, produk sika.
Porositas juga dapat diakibatkan adanya partikel-partikel bahan penyusun beton
yang relatif besar, sehingga kerapatan tidak dapat maksimal. Partikel terkecil
bahan penyusun beton konvensional adalah semen. Untuk mengurangi porositas
semen dapat digunakan aditif yang bersifat pozzolan dan mempunyai patikel
sangat halus. Salah satu aditif tersebut adalah Mikrosilika (Silicafume), yang
merupakan produk sampingan sebagai abu pembakaran dari proses pembuatan silicon
metal atau silicon alloy dalam tungku pembakaran listrik. Mikrosilika ini
bersifat pozzolan, dengan kadar kandungan senyawa silica-dioksida (Si O2) yang
sangat tinggi (> 90 %), dan ukuran butiran partikel yang sangat halus, yaitu
sekitar 1/100 ukuran rata- rata partikel semen. Dengan demikian penggunaan
mikrosilika pada umumnya akan memberikan sumbangan yang lebih efektif pada
kinerja beton, terutama untuk beton bermutu sangat tinggi.
Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka penelitian ini mempunyai tujuan
untuk merancang campuran beton mutu tinggi dengan bahan tambah superplasticizer
dan silicafume, kemudian diperoleh hasil kuat tekan, nilai slump, kadar
masing-masing bahan (air, semen, agregat, superplasticizer, silicafume) dalam
campuran. Dengan penambahan zat additive tersebut ditargetkan kuat tekan yang
dicapai > 60 MPa untuk benda uji silinder berdiameter 150 mm x 300 mm pada
umur 28 hari.
2. Beton Kekurangan dan Kelebihannya.
Beton merupakan suatu material yang menyerupai batu, diperoleh dengan membuat
suatu campuran yang mempunyai proporsi tertentu dari semen, pasir, koral atau
agregat lainnya dan air untuk membuat campuran tersebut menjadi keras dalam
cetakan sesuai dengan bentuk dan dimensi struktur yang diinginkan. Semen
bereaksi secara kimiawi untuk mengikat partikel agregat tersebut menjadi suatu
masa yang padat (Winter, Nilson, 1993).
Beton berasal dari bahasa latin yaitu “concretus” yang berarti tumbuh bersama
yang berupa kelebihan dan kekurangan (Mindess, Young, 1981). Adapun
kelebihannya adalah mudah dicetak, ekonomis, tahan lama, effisien, dapat
diproduksi ditempat, mempunyai estetika dan mempunyai kuat desak yang tinggi.
Sedangkan kekurangannya adalah kekuatan regang rendah, keliatan rendah,
volumenya tidak stabil, kekuatan rendah dibanding beratnya dan mempunyai tarik
desak yang rendah.
3. Beton Mutu Tinggi.
Sesuai dengan perkembangan teknologi beton yang demikian pesat, ternyata
kriteria beton mutu tinggi juga selalu berubah sesuai dengan kemajuan tingkat
mutu yang berhasil dicapai. Pada tahun 1950an, beton dengan kuat tekan 30 MPa
sudah dikategorikan sebagai beton mutu tinggi. Pada tahun 1960an hingga awal
1970an, kriterianya lebih lazim menjadi 40 MPa. Saat ini, disebut mutu tinggi
untuk kuat tekan diatas 50 MPa, dan 80 MPa sebagai beton mutu sangat tinggi,
sedangkan 120 MPa bisa dikategorikan sebagai beton bermutu ultra tinggi
(Supartono, 1998).
4. Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Mutu dan Keawetan Beton
Pada umumnya, terutama bila berhubungan dengan tuntutan mutu dan keawetan yang
tinggi, ada beberapa faktor utama yang bisa menentukan keberhasilan pengadaan
beton bermutu tinggi, diantaranya adalah :
a. Faktor air semen (fas, w/c) yang rendah.
b. Kualitas agregat halus (pasir).
c. Kualitas agregat kasar (batu pecah/koral).
d. Penggunaan admixture dan aditif mineral dalam kadar yang tepat.
e. Prosedur yang benar dan cermat pada keseluruhan proses produksi beton.
f. Pengawasan dan pengendalian yang ketat pada keseluruhan prosedur dan mutu
pelaksanaan, yang didukung oleh koordinasi operasional yang optimal.
5. Faktor Air Semen.
Faktor air semen (fas, w/c) adalah angka yang menunjukan perbandingan antara
berat air dan berat semen. Pada beton mutu tinggi dan sangat tinggi, pengertian
w/c bisa diartikan sebagai water to cementitious ratio, yaitu rasio berat air
terhadap berat total semen dan aditif cementitious, yang umumnya ditambahkan
pada campuran beton mutu tinggi. Faktor air semen yang rendah, merupakan faktor
yang paling menentukan dalam menghasilkan beton mutu tinggi dengan tujuan untuk
mengurangi seminimal mungkin porositas beton yang dihasilkan. Dengan demikian
semakin besar volume faktor air-semen (fas) semakin rendah kuat tekan betonnya,
seperti tampak pada Gambar 1.
Dari gambar 1 tampak bahwa idealnya semakin rendah fas kekuatan beton
semakin tinggi, akan tetapi karena kesulitan pemadatan maka dibawah fas
tertentu (sekitar 0,30) kekuatan beton menjadi lebih rendah, karena betonnya
kurang padat akibat kesulitan pemadatan. Untuk mengatasi kesulitan pemadatan
dapat digunakan alat getar (vibrator) atau dengan bahan kimia tambahan
(chemical admixture) yang bersifat menambah kemudahan pengerjaan
(Tjokrodimuljo, 1992). Untuk membuat beton bermutu tinggi faktor air semen yang
dipergunakan antara 0,28 sampai dengan 0,38. Sedangkan untuk beton bermutu
sangat tinggi faktor air semen yang dipergunakan lebih kecil dari 0,2 (Jianxin
Ma dan Jorg Dietz, 2002).
6. Kualitas agregat halus (pasir).
Kualitas agregat halus yang dapat menghasilkan beton mutu tinggi adalah :
a. Berbentuk bulat.
b. Tekstur halus (smooth texture).
c. Modulus kehalusan (fineness modulus), menurut hasil penelitian menunjukan
bahwa pasir dengan modulus kehalusan 2,5 s/d 3,0 pada umumnya akan menghasilkan
beton mutu tinggi (dengan fas yang rendah) yang mempunyai kuat tekan dan
workability yang optimal (Larrard, 1990).
d. Bersih.
e. Gradasi yang baik dan teratur (diambil dari sumber yang sama).
7. Kualitas Agregat Kasar.
Kualitas agregat kasar yang dapat menghasilkan beton mutu tinggi adalah :
a. Porositas rendah.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa porositan rendah akan menghasilkan suatu
adukan yang seragam (uniform), dalam arti mempunyai keteraturan atau
keseragaman yang baik pada mutu (kuat tekan) maupun nilai slumpnya. Akan sangat
baik bila bisa digunakan agregat kasar dengan tingkat penyerapan air (water
absorption) yang kurang dari 1 %. Bila tidak, hal ini bisa menimbulkan
kesulitan dalam mengontrol kadar air total pada beton segar dan bisa mengakibatkan
kekurang teraturan (irregularity) dan deviasi yang besar pada mutu dan dan
nilai slump beton yang dihasilkan. Karenanya, sensor kadar air secara ketat
pada setiap group agregat yang akan dipakai merupakan suatu tahapan yang mutlak
perlu dikerjakan.
b. Bentuk fisik agregat.
Dari beberapa penelitian menunjukan bahwa batu pecah dengan bentuk kubikal dan
tajam ternyata menghasilkan mutu beton yang lebih baik dibandingkan dengan
menggunakan kerikil bulat (Larrard, 1990). Hal ini tidak lain adalah karena
bentuk kubikal dan tajam bisa memberikan daya lekat mekanik yang lebih baik
antara batuan dengan mortar.
c. Ukuran maksimum agregat.
Dari beberapa penelitian menunjukan bahwa pemakian agregat yang lebih kecil (
90 %), dan ukuran butiran partikel yang sangat halus, yaitu sekitar 1/100
ukuran rata-rata partikel semen. Dengan demikian penggunaan mikrosilika pada
umumnya akan memberikan sumbangan yang lebih efektif pada kinerja beton,
terutama untuk beton bermutu sangat tinggi.
9. Prosedur yang benar dan cermat pada keseluruhan proses produksi beton.
Untuk menghasilkan beton bermutu tinggi maka dibutuhkan prosedur yang benar dan
cermat pada keseluruhan proses produksi beton yang meliputi :
a. Uji material (material testing).
b. Sensor dan pengelompokan material (material sensor and grouping).
c. Penakaran dan pencampuran (batching).
d. Pengadukan (mixing).
e. Pangangkutan (transportating).
f. Pengecoran (placing).
g. Perawatan (curing).
Disamping itu pengawasan dan pengendalian yang ketat pada keseluruhan prosedur
dan mutu pelaksanaan, yang didukung oleh koordinasi operasional yang optimal.
10. Metode Penelitian
a. Bahan atau Materi Penelitian.
(1) Semen yang digunakan dalam penelitian ini adalah semen portland normal
(type I) merek Nusantara kapasitas 40 kg.
(2) Agregat kasar yang digunakan ialah agregat yang dipecah (split) asal
Clereng Kulon Progo.
(3) Agregat halus yang digunakan ialah agregat alami asal Merapi.
(4) Superplasticizer yang digunakan adalah sikamen NN type F, produk PT. Sika
Nusa Pratama.
(5) Silicafume yang digunakan produk dari PT. Sika Nusa Pratama.
(6) Air yang memenuhi syarat dan layak diminum dipakai sebagai campuran beton,
diambil dari tempat pelaksanaan pembuatan benda uji.
b. Alat.
(1) Mesin uji tekan beton berkapasitas maksimum 2000 KN.
(2) Cetakan beton berbentuk silinder dengan ukuran diameter 150 mm dan tinggi
300 mm.
(3) Saringan/ayakan, dengan ukuran 19,52 mm; 9,52; 4,75 mm; 2,36 mm; 1,18 mm;
0,60 mm; 0,30 mm; 0,15 mm.
(4) Oven, digunakan untuk mengeringkan sampel dalam pemeriksaan bahan-bahan
yang akan digunakan dalam campuran beton.
(5) Timbangan, untuk mengetahui berat dari bahan-bahan penyusun beton.
(6) Mesin Los Angeles, untuk menguji tingkat keausan agregat kasar.
(7) Gelas ukur, untuk menakar volume air, berat jenis dan memeriksa kadar
lumpur pasir.
(8)
3 mm, diameter
±Krucut
Abrams dengan ukuran diameter atas 100
3 mm dan baja penumbuk, digunakan untuk
± 3
mm, tinggi 300
±bawah
200
mengukur nilai slump dari beton
segar.
(9) Cangkul, cethok dan talam, digunakan untuk menampung dan menuang adukan
beton ke dalam cetakan.
(10) Mistar dan kaliper, digunakan untuk mengukur dimensi dari alat-alat dan
benda uji yang digunakan.
(11) Stop watch, digunakan untuk mengukur waktu saat pengisian terakhir beton
yang telah diratakan dengan saat kerucut diangkat.
c. Pelaksanaan Penelitian.
Pelaksanaan penelitian dimulai dari pemeriksaan bahan susun hingga pengujian
kuat tekan benda uji. Secara garis besar penelitian meliputi :
(1). Pemeriksaan bahan susun agregat halus : Pemeriksaan gradasi agregat halus
(pasir), pemeriksaan berat jenis dan penyerapan air agregat kasar, Pemeriksaan
kadar lumpur agregat halus, pemeriksaan kadar air agregat halus, Pemeriksaan
berat satuan agregat halus (pasir).
(2). Pemeriksaan bahan susun agregat kasar : Pemeriksaan gradasi agregat kasar
(split), pemeriksaan berat jenis dan penyerapan air agregat kasar, pemeriksaan
keausan agregat kasar, Pemeriksaan kadar lumpur agregat kasar, Pemeriksaan
kadar air agregat kasar, dan Pemeriksaan berat satuan agregat kasar.
(3). Pemeriksaan bahan susun silicafume : Pemeriksaan kadar air silicafume dan
Pemeriksaan kehalusan butiran silicafume.
(4). Perancanagan bahan susun beton yang berupa : air, semen, pasir, koral,
Superplasticizer dan Silicafume.
(5). Pengambilan benda uji beton segar, Pengujian Slump dan Pembuatan benda uji
dan perawatan.
(6). Pengujian berat jenis dan kuat tekan benda uji.
Faktor air semen (fas) dasar yang dipakai didalam penelitian disesuaikan dengan
kebutuhan hidrasi semen yaitu sebesar 0,30 (misalnya untuk semen sebesar 750 kg
maka air sebesar 225 liter). Kemudian jumlah air dikurangi sesuai dengan
besarnya kadar Superplasticizer yaitu sebesar 0 %, 0,5 %, 1 %, 1,5 %, 2 %, dan
2,5 %. Dari hasil pengujian tersebut akan didapat kadar superplastisizer
optimum. Kemudian penelitian selanjunya hanya digunakan superplastisizer dengan
kadar optimum saja. Kadar silicafume yang dipergunakan yaitu sebesar 0%, 5%,
10% dan 15% terhadap berat semen. Agar menghasilkan fas yang tetap maka jumlah
semen yang dipergunakan dikurangi dengan besarnya bahan tambah.
Pengujian dilakukan pada saat beton berumur 28 hari, dengan jumlah setiap
samplenya sebanyak 4 buah benda uji, maka jumlah sample untuk pengujian awal
sebanyak 6 x 4 = 24 benda uji, kemudian untuk pengujian lanjutan sebanyak 5 x 4
= 20 benda uji sehingga jumlahnya 44 benda uji.
Metoda yang dipakai dalam perencanaan bahan susun beton pada penelitian ini
adalah Cara ”The British Mix Design Method“ yaitu perencanaan standar yang
dipakai di Indonesia oleh Departemen Pekerjaan Umum, yang dijelaskan dengan
rinci pada buku Standar SK.SNI.03- 2834-1992 dengan judul “Tata Cara dan
Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal”.
d. Cara Analisis.
Hasil nilai kuat tekan beton yang dihasilkan pada pengujian beton normal
dipakai sebagai acuan/pembanding terhadap hasil nilai kuat tekan beton yang
telah diberi bahan tambah superplastiziser maupun silicafume. Kemudian dibuat
grafik hubungan antara kadar superplastiziser maupun silicafume terhadap kuat
tekannya, dari hasil tersebut akan diketahui pada kadar berapa persen sehingga
menghasilkan kuat tekan beton optimum. Begitu juga terhadap silicafume, pada
kadar silicafume berapa persen sehingga dapat menghasilkan kuat tekan beton
optimum. Dari hasil tersebut akan didapat proporsi campuran bahan pembentuk
beton yang menghasilkan kuat tekan yang paling optimum.
Disamping itu diuji juga nilai slump baik pada beton normal maupun beton yang
diberi bahan tambah superplastiziser maupun silicafume. Kemudian dibuat grafik
hubungan antara nilai slump terhadap kuat tekannya. Dari hasil tersebut akan
diketahui kinerja beton mutu tinggi terhadap nilai slump nya.
11. Hasil dan Pembahasan
a. Pemeriksaaan Bahan Susun.
Bahan susun yang dipergunakan meliputi : agregat kasar (koral), agregat halus
(pasir), semen, air, superplastisizer, dan silicafume. Dari hasil pengujian
pasir di laboratorium didapat : modulus halus butir sebesar 3,35 dan termasuk
gradasi untuk daerah no. 1, berat jenis pasir kering/curah sebesar 2,64 gr/cm3,
kadar air pada kondisi SSD sebesar 1 %, berat satuan pada kondisi kering muka
(SSD) sebesar 1,26 gr/cm³, dan kadar lumpur sebesar 0,5 %.
Hasil pengujian koral didapat : berat jenis kering sebesar 2,65 gr/cm3, berat
jenis kering muka (SSD) sebesar 2,67 gr/cm3, penyerapan air dalam kondisi
kering sebesar 0,86 %, kadar lumpur sebesar 0,62 %, kadar air agregat kasar SSD
rata-rata sebesar 0,89 %, berat satuan batu SSD sebesar 1,43 gr/cm³, keausan
agregat kasar sebesar 42,57 %. Hasil pengujian silicafume didapat : Berat jenis
sebesar 1,28 gr/cm³, kadar air sebesar 1,47%. Butiran yang lolos menembus
saringan no.100 (0,15 mm) adalah sebesar 82,5 %. Secara umum dari hasil
pengujian bahan susun tersebut memenuhi syarat untuk pembuatan beton.
b. Hasil Perencanaan Campuran Beton
Kuat tekan beton tanpa superplastisizer direncanakan sebesar 42 MPa, dengan fas
sebesar 0,3. Dengan adanya bahan tambah superplastisizer maka fas akan menurun
sehingga diharapkan kuat tekannya lebih besar dari yang direncanakan, dengan
menurunnya fas maka akan menghasilkan kuat tekan yang lebih besar. Berdasarkan
metode SK-SNI 03-2834-1992, kebutuhan bahan susun untuk setiap meter kubik
beton disajikan dalam Tabel 1. Dari Tabel 1 tersebut diharapkan menghasilkan
kadar superplastisizer optimum terhadap kuat tekannya.
Setelah diadakan uji kuat tekan beton sebagaimana dibahas pada 11.d, didapat
kuat tekan optimum sebesar 2%, sehingga pembuatan benda uji berikutnya
dipergunakan kadar superplastiziser sebesar 2%, dengan kadar silicafume
bervariasi sebesar 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% terhadap berat semen. Hasil
selengkapnya disajikan selengkapnya pada Tabel 2.
c. Hasil Uji Slump Beton Segar
Setiap benda uji diadakan 2 kali pengujian slump, kemudian dari 2 kali
pengujian ini diambil nilai slump rata-rata. Hasil uji slump tanpa menggunakan
silicafume disajikan dalam Tabel 3. Kemudian hasil uji slump dengan menggunakan
silicafume sebesar 2% disajikan dalam Tabel 4.
Dari Tabel 3. didapat bahwa semakin besar kadar superplastisizer semakin
meningkat nilai slump-nya. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Supartono (1998), yang mengatakan bahwa semakin besar kadar
superplastisizer maka nilai slump akan semakin meningkat. Hal tersebut
dikarenakan dengan semakin besar kadar superplastisizer maka beton akan semakin
lecak (mudah dikerjakan).
Dari Tabel 4. didapat bahwa semakin besar kadar silicafume semakin menurun
nilai slump-nya. Hal tersebut diakibatkan karena silicafume lebih banyak
menyerap air jika dibandingkan dengan semen, sehingga adukan menjadi lebih
kering yang kemudian mempengaruhi nilai slump beton segar menjadi semakin
rendah sesuai dengan kadar silicafume yang ditambahkan.
d. Pengaruh Kadar Superplastisizer Terhadap Kuat Tekan Beton
Hasil uji kuat tekan beton tanpa menggunakan silicafume disajikan selengkapnya
pada Tabel 5, atau dapat digambarkan grafiknya sebagaimana tergambar pada
Gambar 2, dan hasil persamaannya sebagaimana ditulis pada persamaan 1.
fc’ = -26231 SP2 + 1047,3 SP + 40,9 . . . . . . . . . . . . . . . . . (1)
dimana fc’ adalah kuat tekan beton (MPa) dan SP adalah superplastisizer (%).
Dari gambar 2 tersebut terlihat bahwa semakin besar kadar superplastisizer
semakin besar kuat tekannya, namun sampai dengan kadar 2 % kuat tekan beton
semakin kecil. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kuat tekan optimum
didapat pada kadar superplastisizer 2% dan berdasarkan persamaan 1 didapat
nilai kuat tekan beton optimum sebesar 51,35 MPa dengan slump sebesar 12,90 cm
(berdasarkan Tabel 3). Berdasarkan Tabel 3 Perbadingan berat bahan susun beton
tanpa silicafume dengan kadar superplastisizer 2%, yaitu sebesar = 1
superplastisizer : 5,67 air : 22,22 semen : 22,65 pasir : 20,91 koral.
e. Pengaruh Kadar Silicafume Terhadap Kuat Tekan Beton
Hasil uji kuat tekan beton pada umur 28 hari dengan kadar superplastisizer
sebesar 2% dan kadar silicafume bervariasi disajikan selengkapnya pada Tabel 6
atau dapat digambarkan grafiknya sebagaimana tergambar pada Gambar 3, dan
persamaannya sebagaimana ditulis pada persamaan 2.
fc’ = -1161,8 SC2 + 235,23 SC + 53,15. . . . . . . . . . . . . . . . . (2)
dimana fc’ adalah kuat tekan beton (MPa) dan SC adalah silicafume (%).
Dari gambar 3 tersebut terlihat bahwa semakin besar kadar silicafume semakin
besar kuat tekannya, namun sampai dengan kadar 10% kuat tekan beton semakin
kecil. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kuat tekan optimum didapat
pada kadar silicafume 10% dan berdasarkan persamaan 2 didapat nilai kuat tekan
optimum sebesar 65,06 MPa, dengan slump sebesar 9,20 cm (berdasarkan Tabel 4).
Berdasarkan Tabel 4 Perbadingan berat bahan susun beton dengan kadar
superplastisizer 2% dan silicafume 10%, yaitu sebesar = 1 superplastisizer :
5,67 air : 2,22 silicafume : 20 semen : 22,65 pasir : 20,91 koral.
12. Kesimpulan dan Saran
a. Kesimpulan
Dari hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan dapat diambil beberapa
kesimpulan sebagai berikut :
1. Kuat tekan beton optimum yang dapat dicapai sebesar 65,06 MPa dengan kadar
siilicafume 10%, kadar superplastisizer 2% dan slump sebesar 9,20 cm.
2. Kuat tekan beton optimum tanpa silicafume yang dapat dicapai sebesar 51,35
MPa dengan kadar superplastisizer sebesar 2%, dan slump sebesar 12,90 cm.
3. Kuat tekan beton dengan mutu sangat tinggi (> 80 Mpa) belum dapat dicapai
namun masih termasuk beton mutu tinggi (> 60 MPa).
4. Perbandingan berat bahan susun beton optimum tanpa silicafume dengan kadar
superlastisizer 2% adalah 1 superplastisizer : 5,67 air : 22,22 semen : 22,65
pasir : 20,91 koral.
5. Perbandingan berat bahan susun beton optimum dengan kadar silicafume 10% dan
superlastisizer 2% adalah 1 superplastisizer : 5,67 air : 2,22 silicafume : 20
semen : 22,65 pasir : 20,91 koral.
b. Saran.
1. Untuk mendapatkan beton mutu sangat tinggi (dengan kuat tekan > 80 MPa)
maka perlu diadakan penelitian dengan bahan susun yang mempunyai kualitas lebih
baik.
2. Untuk mendapatkan beton yang lebih baik lagi maka dapat diadakan penelitian
tentang pengaruh faktor air semen terhadap kuat tekan beton.
3. Untuk mengetahui perbandingan kuat tekan pada umur 3, 7, 14, dan 21 hari
maka perlu diadakan penelitian tentang pengaruh kuat tekan beton terhadap umur,
bahkan jika waktunya memungkinkan dapat diadakan sampai dengan umur 90 hari.
4. Untuk mendapatkan beton yang lebih baik lagi maka dapat diadakan penelitian
tentang pengaruh modulus kehalusan agregat kasar terhadap kuat tekan beton.
5. Untuk mendapatkan beton yang lebih baik lagi maka dapat diadakan penelitian
tentang pengaruh gradasi agregat kasar terhadap kuat tekan beton.
13. Daftar Pustaka
1. DPU, 1992, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Untuk Beton Normal, SK SNI
03-2834-1992, yayasan LPMB, Bandung.
2. DPU, 1990, Metode Pengujian Tentang Ana-lisis Saringan Agregat Halus dan
Kasar, SK SNI 03-1968-1990 , yayasan LPMB, Bandung.
3. DPU, 1990, Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Kasar ,
SK SNI 03-1969-1990 , yayasan LPMB, Bandung.
4. DPU, 1990, Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Halus ,
SK SNI 03-1970-1990 , yayasan LPMB, Bandung.
5. DPU, 1990, Metode Pengujian Kadar Air Agregat , SK SNI 03-1971-1990 ,
yayasan LPMB, Bandung.
6. DPU, 1990, Metode Pengujian Keausan Agregat dengan Mesin Abrasi Los Angeles
, SK SNI 03-2417-1991 , yayasan LPMB, Bandung.
7. DPU, 1990, Metode Pengujian Slump Beton, SK SNI 03-1972-1990, yayasan LPMB,
Bandung.
8. DPU, 1990, Metode Pengujian Berat Isi Beton, SK SNI 03-1973-1990 , yayasan
LPMB, Bandung.
9. DPU, 1990, Metode Pengujian Kuat Tekan Beton, SK SNI 03-1974-1990, yayasan
LPMB, Bandung.
10. DPU, 1991, Metode Pengujian Pengambilan Contoh untuk Campuran Beton Segar,
SK SNI 03-2458-1991, yayasan LPMB, Bandung.
11. DPU, 1990, Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Laboratorium,
SK SNI 03-2493-1991, yayasan LPMB, Bandung.
12. DPU, 1990, Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Laboratorium,
SK SNI 03-2493-1991, yayasan LPMB, Bandung.
13. DPU, 1990, Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Laboratorium,
SK SNI 03-2493-1991, yayasan LPMB, Bandung.
14. Jianxin Ma dan Jorg Dietz, 2002, Ultra High Performance Self Compacting Concrete,
Institut für Massivbau und Baustofftechnologie, Universität Leipzig.
15. Mindess, S., Young, J. F., 1981, Concrete, Prentice–Hall, inc. Englewood
Clifs, New Jersey.
16. Mokarem, D.M., 2002, Development of Concrete Shrinkage Performance
Specifications, Dissertation submitted to the Faculty of the Virginia
Polytechnic Institute and State University In partial fulfillment of the
requirements for the degree of, Virginia.
17. Supartono, F.X., 1998, Mengenal dan Mengetahui Permasalahan pada Produksi
Beton Berkinerja Tinggi, artikel ilmiah, UI, Jakarta.
18. Tjokrodimuljo, K., 1992, Teknologi Beton, Gramedia, Yogyakarta.
19. Winter, G., Arthur H. Nilson, 1993, Design Of Concrete Structures, McGraw
Hill Book Company Inc., New York.